Analisis Sebaran Titik Panas dan Penurunan Kualitas Udara di Kota Palangka Raya Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan
DOI:
https://doi.org/10.59632/magnetic.v6i2.874Keywords:
Kebakaran hutan; PM 2.5; Titik panas; Kualitas udara; Sistem informasi geografisAbstract
Studi ini mengkaji dampak kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah, selama periode bulan Juli hingga Oktober pada tahun 2022 dan 2023. Meskipun Kota Palangka Raya merupakan wilayah yang kaya akan hutan, kota ini sering mengalami kebakaran yang meningkatkan jumlah titik panas dan menurunkan kualitas udara, yang ditandai dengan tingginya konsentrasi PM 2.5. Dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), studi ini menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah titik panas yang sangat besar pada tahun 2023, di mana Kecamatan Sabangau menjadi wilayah yang paling terdampak. Kualitas udara, yang diukur berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI), juga mengalami penurunan drastis pada tahun 2023, dengan banyaknya hari yang dikategorikan sebagai tidak sehat. Curah hujan menunjukkan korelasi negatif dengan konsentrasi PM 2.5 dengan kekuatan hubungan rendah hingga sedang. Hal ini disebabkan oleh efek higroskopis, luasnya lahan gambut, serta pembakaran di bawah permukaan tanah yang menghasilkan asap pekat saat terkena air, sehingga konsentrasi PM 2.5 justru meningkat.
Downloads
References
[1] J. Jaya Pramudya, “Implementasi Kebijakan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahandi Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah,” Restorica J. Ilm. Ilmu Adm. Negara dan Ilmu Komun., vol. 2, no. 2, hal. 37–40, 2016, doi: 10.33084/restorica.v2i2.747.
[2] D. Arisanty dkk., Peranan Masyarakat dan Pemerintah pada Lahan Gambut : Upaya Pencegahan Kebakaran Lahan. 2021. [Daring]. Tersedia pada: https://repo-dosen.ulm.ac.id/bitstream/handle/123456789/24820/Peranan Pemerintah dan Masyarakat Pada Lahan Gambut.pdf?sequence=1&isAllowed=y
[3] F. Irsyad, S. K. Saptomo, dan B. I. Setiawan, “Penentuan Awal dan Durasi Musim Kemarau Menggunakan Fungsi Polynomial dengan Aplikasi Visual Basic for Applications (VBA),” Agromet, vol. 28, no. 1, hal. 40–46, 2014, doi: 10.29244/j.agromet.28.1.40-46.
[4] J. Prayudha, A. Pranata, dan A. Al Hafiz, “Implementasi Metode Fuzzy Logic Untuk Sistem Pengukuran Kualitas Udara Di Kota Medan Berbasis Internet of Things (Iot),” Jurteksi, vol. 4, no. 2, hal. 141–148, 2018, doi: 10.33330/jurteksi.v4i2.57.
[5] I. O’Neill, MEMBARA Dampak Kesehatan dari Kebakaran Hutan di Indonesia dan Implikasinya bagi Pandemi Covid-19. 2020.
[6] I. D. G. A. Putra, E. Heryanto, R. P. Sopaheluwakan, Ardhasena Pradana, dan U. Haryoko, “Sebaran Spasial Dan Temporal Titik Panas ( Hotspot ) di Indonesia Dari Satelit Modis Dengan Metode Gridding,” Semin. Nas. Geomatika, hal. 1123–1128, 2018.
[7] S. K. Khotimah, R. Kumalawati, N. Inu, dan K. Hadi, “Pemantauan Titik Panas Dan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan Di Kabupaten Katingan Tahun 2019-2023,” Gudang J. Multidisiplin Ilmu, vol. 2, no. 5, hal. 5–12, 2024.
[8] A. Pinem, S. Yulianto, dan R. Dwiastuti, “KARAKTERISTIK SPASIAL DATA HOTSPOT MODIS TAHUN 2019 DI KOTA PALANGKA RAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH,” J. Hutan Trop., vol. 17, no. 148, hal. 104–113, 2022.
[9] S. Putri Nadita, D. Permadi Agustian, M. Dirgawati, dan S. Dermawan, “Correlation between Ground-based Particulate Matter Concentration and Aerosol Optical Depth during Forest Fires in Palangkaraya City,” Int. Conf. Green Technol. Des., hal. 49–54, 2022.
[10] R. Kumalawati, “STRATEGI PENANGANAN HOTSPOT UNTUK MENCEGAH KEBAKARAN DI KABUPATEN BARITO KUALA KALIMANTAN SELATAN,” vol. 4, no. April, hal. 351–356, 2019.
[11] J. Chen dkk., “Aerosol hygroscopic growth, contributing factors, and impact on haze events in a severely polluted region in northern China,” Atmos. Chem. Phys., vol. 19, no. 2, hal. 1327–1342, 2019, doi: 10.5194/acp-19-1327-2019.
[12] Y. Hu, E. G. Christensen, H. M.F Amin, T. E. L. Sminth, dan G. Rein, “Experimental study of moisture content effects on the transient gas and particle emissions from peat fires,” hal. 408–417, 2019.
[13] M. J. Grosvenor dkk., “Catastrophic impact of extreme 2019 Indonesian peatland fi res on urban air quality and health,” Commun. Earth Environ., hal. 1–14, 2024, doi: 10.1038/s43247-024-01813-w.


