Analisis Spasiotemporal Kerapatan Sambaran Petir Jenis Cloud To Ground Berdasarkan Ketinggian dan Kepadatan Bangunan di Kota Kupang Tahun 2023-2025
DOI:
https://doi.org/10.59632/magnetic.v6i2.872Keywords:
Petir Cloud to Ground; Ketinggian; Kepadatan bangunan; Indeks tarikan petir; SIGAbstract
Telah dilakukan penelitian yang menganalisis pola spasiotemporal kerapatan sambaran petir Cloud to Ground (CG) berdasarkan faktor ketinggian dan kepadatan bangunan di Kota Kupang tahun 2023-2025. Data petir diperoleh dari Lightning Detector BMKG Stasiun Geofisika Kupang. Sebanyak 92.884 sambaran petir CG terekam selama periode tiga tahun dan dianalisis spasial menggunakan ArcGIS 10.8 dengan interpolasi Inverse Distance Weighting (IDW). Untuk kepadatan bangunan, dikembangkan formula indeks tarikan petir untuk mengatasi bias luas wilayah pada analisis konvensional. Hasil menunjukkan bahwa kerapatan petir tidak berbanding lurus dengan ketinggian; kerapatan tertinggi (hingga 13.782 sambaran/km² pada tahun 2024) terjadi pada elevasi sangat rendah (<10 mdpl) di wilayah pesisir. Sebaliknya, terdapat hubungan hierarkis positif yang kuat antara kepadatan bangunan dan kerapatan petir, di mana wilayah dengan kepadatan sangat tinggi (pusat kota) secara konsisten memiliki kerapatan petir tertinggi (386,7 sambaran/km² pada tahun 2024). Formula indeks tarikan petir yang dikembangkan menunjukkan kinerja lebih representatif dibandingkan pendekatan konvensional dalam mengungkap peran bangunan sebagai atraktor petir. Penelitian ini menghasilkan peta kerawanan petir yang dapat digunakan sebagai acuan mitigasi bahaya petir di wilayah perkotaan pesisir tropis.
Downloads
References
[1] R. Jiang et al., “Characteristics of cloud-to-ground lightning (CG) and differences between +CG and −CG strokes in China regarding the China National Lightning Detection Network,” Nat. Hazards Earth Syst. Sci., vol. 23, no. 12, pp. 3747–3759, Dec. 2023, doi: 10.5194/nhess-23-3747-2023.
[2] F. Narut, A. Wahid, and S. Sumawan, “Karakterisasi Peristiwa Petir Di Wilayah Kota Kupang Serta Keterkaitannya Dengan Curah Hujan,” J. Fis. Fis. Sains dan Apl., vol. 3, no. 2, pp. 110–116, Dec. 2018, doi: 10.35508/fisa.v3i2.611
[3] E. Susanto, M. R. N. Wahyuddin, A. R. Setyahagi, and R. Hidayat, “Analisis Spasial Dan Temporal Tingkat Ancaman Sambaran Petir Cg Di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan,” in Prosiding Seminar Nasional Fisika PPs UNM, 2020, vol. 2, pp. 96–99, [Online]. Available: https://ojs.unm.ac.id/semnasfisika
[4] PKP Kota Kupang, “Profil Perumahan Dan Kawasan Permukiman Kota Kupang,” PKP Kota Kupang, 2022. [Online]. Available: https://perkim.id. [Accessed: 18-Sep-2025].
[5] Y. Nenik, Abdul Wahid, Philips B. Mudamakin, Hadi I. Sutaji, and Arief Tyastam, “Analisis Kerapatan Sambaran Petir Jenis Cloud To Ground Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kota Kupang Tahun 2021-2022,” Magn. Res. J. Phys. It’s Appl., vol. 5, no. 2, pp. 481–488, 2025, doi: 10.59632/magnetic.v5i2.499
[6] E. Susanto, “Analisis Korelasi Kepadatan Bangunan Terhadap Frekuensi Sambaran Petir di Wilayah Kota Makassar,” in Prosiding Seminar Nasional Fisika 2018 Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, 2018, vol. 2, no. 2, pp. 1–4, [Online]. Available: https://ojs.unm.ac.id/semnasfisika
[7] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, “Informasi Petir,” Stasiun Geofisika Kupang, 2025. [Online]. Available: https://stageof-kupang.bmkg.go.id/informasi-petir/. [Accessed: 20-Jul-2025].
[8] A. N. A. Taufik et al., “Lightning Observation around Tall Structures in Kuala Lumpur, Malaysia,” in 2022 IEEE International Conference in Power Engineering Application (ICPEA), 2022, vol. 3, no. March, pp. 1–5, doi: 10.1109/ICPEA53519.2022.9744646.
[9] S. R. Riqmawatin and P. K. Intan, “Analisa Pemetaan Daerah Rawan Sambaran Petir Di Wilayah Kabupaten Pasuruan dengan Menggunakan Metode Simple Additive Weighting,” J. Mhs. Mat. Algebr., vol. 1, no. 1, pp. 198–210, 2020, [Online]. Available: http://repository.uinsa.ac.id/id/eprint/2576
[10] M. L. Firdaus, N. Nasiah, and U. Uca, “Studi Spasiotemporal Sambaran Petir Cloud To Ground Di Kabupaten Gowa Tahun 2017-2019,” J. Environ. Sci., vol. 3, no. 2, Apr. 2021, doi: 10.35580/jes.v3i2.20050.
[11] R. H. D. Cahyo, Ardimas, Y. D. Anggara, A. Puspitasari, and Peredianto, “Cloud to Ground Lightning Strike Density Analysis Based on Geographic Information System in Tuban Regency Area,” J. Phys. Conf. Ser., vol. 2623, no. 1, p. 012006, Nov. 2023, doi: 10.1088/1742-6596/2623/1/012006.
[12] W. R. G. Farias, O. Pinto, I. R. C. A. Pinto, and K. P. Naccarato, “The influence of urban effect on lightning activity: Evidence of weekly cycle,” Atmos. Res., vol. 135–136, pp. 370–373, Jan. 2014, doi: 10.1016/j.atmosres.2012.09.007.
[13] T. Shi et al., “Potential Urban Barrier Effect to Alter Patterns of Cloud To Ground Lightning in Beijing Metropolis,” Geophys. Res. Lett., pp. 1–10, 2022, doi: 10.1016/j.atmosres.2012.09.007.


